Me And My School
Do’a Didalam Perpisahan
(Ciptaan : Muhammad Iqbal Husni)
waktu
yang akan segera berlalu
kehidupan
yang akan memulai babak baru
perpisahan
yang akan terjadi
kini
semakin dekat dan telah menanti
setiap
pagi ku sambut kelasku
dengan
senyum dan semangatku
namun
semuanya akan berakhir
selapas
lulus ujian akhir
hanya
air mata yang dapat berbicara
waktu
ini begitu menyiksa
kebahagian
dan kesedihan terasa bersama
menetes
air mata tak bisa ku terima
ini
adalah akhir dari awal kita semua
untuk
bangun dan lanjutkan mimpi kita
meraih
semua harapan dan cita-cita
yang
terucap didalam doa-doa kita
kawan
walau langkah ini begitu berat
walau
hati ini tak begitu kuat
namun
kita semua harus saling merelakan
untuk
pergi menuju masa depan
ku
doakan agar kalian semua sukses
semua
harapan dan cita-cita kalian beres
semoga
perpisahan ini adalah rekayasa mata
semoga
ini hanya sebuah ilusi belaka
ku
harap kita akan tetap saling bertegur sapa
selamat
jalan kawan-kawan semua
semoga
kau berhasil menggapai cita-cita
datanglah
nanti kita pasti akan kembali bersama
Nama
saya Muhammad Iqbal Husni, saya biasa dipanggil Iqbal. Umur saya saat ini
adalah 17 tahun (saya kelahiran Jakarta, 03 Agustus 1998), hobby saya yaitu
membaca, berolahraga, dan membuat karya tulis berupa puisi. Makanan favorit
saya yaitu Pecel Lele, Mie Instant, Nasi Uduk, Nasi Goreng, dan All Inonesian
Food, sedangkan minuman favorit saya yaitu Lemon Juice, Soft Drink, Susu, dan
Es Kelapa. Warna favorit saya yaitu Merah dan Biru, club sepak bola favorit
saya yaitu Persib Bandung, Manchester United, dan Tim Nasional Indonesia.
Baiklah itu saja sedikit pengenalan yang saya berikan kepada kalian semua
(pembaca), mari kita lanjut dan inilah kisa saya selama 3 tahun di MA Daarul
Hikmah . . .
Saya
adalah siswa Madrasah Aliyah Daarul Hikmah Pamulang yang akan segera lulus
ditahun ajaran 2015/2016 ini. Awalnya saya adalah alumni dari Madrasah
Tsanawiyah Daarul Hikmah Pamulang angkatan 2012/2013. Setelah saya lulus MTS
saya memutuskan untuk mengikuti kemauan dari keluarga besar saya untuk menuntut
ilmu di Pondok Pesantren. Mereka berharap saya bisa menjadi penerus dari
Almarhum kakek saya untuk bisa memimpin keluarga besar saya seperti dulu ketika
Almarhum kakek saya masih hidup. Beliau adalah sosok yang mengajarkan saya
kesederhanaan dan mengajari saya pula untuk selalu bersyukur atas rezeki
sekecil apapun yang Allah SWT berikan kepada saya. Hal itu pula yang mendorong
hati kecil saya untuk memantapkan niat saya menuntut ilmu di Pondok Pesantren.
Pada
akhirnya saya masuk Pondok Pesantren di daerah Cipayung, Depok. Pesantren itu
dikenal dengan nama Pondok Pesantren Qotrun Nada. Awalnya saya masuk pesantren
itu bertiga dengan teman saya semasa MTS dahulu yaitu Izal Yudistira dan Qais
Arkhan Tedjo Respati, mereka juga sekarang menjadi teman saya di MA Daarul
Hikmah Pamulang. Qais hanya kuat bertahan di Pesantren itu sekitar 1 minggu,
saya dan Idzal merasa sangat kehilangan saat Qais memutuskan untuk menyerah
dalam menuntut ilmu di Pesantren tersebut. Akan tetapi kesedihan kami berdua
tidak berlangsung lama karena pada saat itu pula kami berdua mendapatkan dua
orang teman yang bernama Wariz dan Syekh (saya lupa namanya tapi saya dan Idzal
memanggil namanya dengan sebutan Syehk karena memang dia itu masih keturunan
habib), sedangkan Waris biasa kami panggil dengan sebutan Engkong (sebutan
untuk laki-laki yang sudah lanjut usia), hehehe.
Kami
lewati hari-hari di Pesantren dengan suka dan duka, singkat cerita setelah
libur lebaran tepatnya 10 hari setelah lebaran saya kembali ke Pesantren,
setelah libur lebaran selesai dan ketika itu pula saya menyerah dan keluar dari
Pesantren itu (1 bulan didalam lingkungan Pesantren), setelah itu saya memulai
hidup baru saya dengan menjadi siswa MA Daarul Hikmah.
Ini adalah awal dimana pengalaman baru saya dimulai. Setelah ayah
dan ibu saya membereskan berkas pemindahan sekolah saya dari Pondok Pesantren
Qotrun Nada Depok ke MA Daarul Hikmah Pamulang. Pada bulan September saya resmi
menjadi siswa MA Daarul Hikmah Pamulang (meskipun tanpa ikut MOS, maklum anak
pindahan ceritanya), pengalaman saya dikelas 10 tidak begitu banyak, maklum
ketika kelas 10 itu adalah masa dimana saya mengenal teman-teman saya, hanya
ada beberapa teman yang saya kenal dari MTS dulu termasuk Qais yang lebih dulu
pergi dari Pesantren.
Kegiatan futsal pun menjadi salah satu media kami untuk saling
mengenal satu sama lain, hingga pada akhirnya Idzal pun ikut menyusul saya dan
Qais ke MA Daarul Hikmah Pamulang (5 bulan Idzal dipesantren dengan kondisi
sakit pasca divonis bahwa ginjalnya bermasalah oleh dokter dan sempat masuk
rumah sakit pada saat libur lebaran).
Dikelas 10 juga awal mula saya jatuh cinta kepada seseorang bernama Siti Asiah Asvianti. Saya pertama
melihat Asiah itu ketika saya diajak bermain ke kelas 10A (dulu saya dikelas 10
itu dapat kelas 10B), awalnya saya meminta bantuan kepada teman saya yaitu
Badriah Multaqiyah untuk meminta nomer handphone dan juga facebooknya (maklum
saya itu kalau suka sama orang kaya malu-malu tapi mau, hehehe). Setelah
mendapatkan nomer handphone dan facebooknya, setiap pulang sekolah saya selalu
mengiriminya pesan di handphone maupun di facebooknya. Tapi apalah daya dia
dulu sombong banget, setiap saya sms engga pernah dibales sekalinya dibales
seminggu setelah saya mengirim sms ke dia, hahaha nasib emang nasib.
Tapi pada akhir semester saya mendapatkan hadiah yang luar biasa
dari Allah SWT, saya mendapatkan 2 hadiah sekaligus. Hadiah yang pertama yaitu
saya mendapatkan peringkat ke-2 pada semester akhir kenaikan kelas dan hadiah
yang kedua yaitu saya bisa mendapatkan orang yang selama ini berhasil membuat
saya jatuh cinta siapa lagi kalau bukan Siti Asiah Asvianti, Alhamdulillah saya
sangat bersyukur.
Singkat cerita setelah saya melewati liburan sekolah akhirnya
tahun ajaran baru kembali dimulai, setelah mendapatkan 2 hadiah indah diakhir
semester lalu saya semakin optimis untuk mendapatkan hasil terbaik dikelas 11.
Saya pun memulai kelas 11 dengan memilih jurusan dan jurusan yang saya ambil
yaitu jurusan IPS. Dikelas 11 ini pengalaman saya lumayan banyak ceritanya baik
yang suka maupun yang duka. Cerita sukanya yaitu setelah dari kelas 10 lalu saya
dan teman-teman saya bermain futsal bersama terus, akhirnya saya dan
teman-teman membuat club futsal yang bernama BR-TWO FA.
Anggotanya yaitu Muhammad Andri, Muhammad Iqbal Husni, Izal
Yudistira, Fajar Fadhlu Rahman, Riki Satria, Andi Supriandi, Muhammad Irfan
Fauzi, Alvin Ar-Rasyid, dan Alwan Ashari. Bersama BR-TWO FA saya sering
mengikuti berbagai turnamen futsal namun sayang kami belum pernah merasakan
juara, semoga suatu saat nanti kami bisa mencicipi gelar juara. Pengalaman yang
kurang menyenangkan dikelas 11 yaitu adalah saat saya dan Asiah sempat putus
hubungan selama 3 hari karena sebuah masalah (masalahnya yaitu cinta segitiga)
namun masalah itu tak berlangsung lama karena sebagai pria yang “Gentle Man”
saya selalu menyelesaikan masalah saya dengan cepat (sebagai bentuk tanggung
jawab saya terhadap masalah saya) dan selalu mengusahakan agar masalah itu
tidak terjadi kembali dilain waktu. Dan masih banyak pengalaman saya yang
lainnya dikelas 11.
Diakhir semester kenaikan kelas saya kembali mendapatkan
peringkat ke-2 dan peringkat ke-3 bintang kelas. Kegagalan saya dikelas 10 dan
dikelas 11 untuk menjadi juara diantara para juara (Juara 1) membuat tekad saya
semakin kuat untuk meraih sukses dikelas 12.
Kelas 12 pun sudah dimulai setelah liburan yang sangat panjang
dan menyiksa (karena ditinggal pacar pulang kampung dan engga bisa ketemuan
kaya biasa disekolah). Memasuki kelas 12 saya mendapatkan amanah dari
teman-teman untuk memimpin kelas 12 IPS, sebelumnya dikelas 11 IPS dulu saya
dan teman-teman selalu di cap jelek oleh guru-guru. Oleh karena itu saya pun
bertekad untuk mengubah citra kelas yang buruk menjadi kelas yang baik dan
Alhamdulillah semuanya berjalan lancar meski tidak sempurna. Dimulai dengan
menjadi juara kelas terbersih, hingga membuat para guru nyaman berada di kelas
kami (12 IPS).
Disemester ganjil saya berhasil mewujudkan mimpi saya untuk jadi
juara 1 dikelas 12 IPS, meskipun itu menjadi awal yang baik namun saya tidak
ingin terlena atas kebahagian itu. Jalan masih panjang dan baru akan dimulai,
kelas 12 itu adalah gerbang awal kita menuju masa depan, saya berharap ketika
lulus nanti saya bisa menjadi siswa terbaik yang akan mendapatkan nilai Ujian
Negara (UN) tertinggi dan bisa mewujudkan impian saya dimasa depan. Karena
orang sukses itu pasti punya proyek untuk masa depan dan saya sudah memiliki
gambaran dan proyek untuk masa depan saya, semoga saya bisa sukses dimasa
depan, amiin.
Sekian dan terimakasih atas perhatian dan
waktu kalian untuk membaca pengalaman saya selama 3 tahun bersekolah di MA
Daarul Hikmah Pamulang, pengalaman saya selama 3 tahun bersekolah itu banyak
namun saya hanya bisa menceritakan hal yang paling berkesan saja semasa saya
bersekolah disekolah ini. Dan do’a saya untuk sekolah ini, saya berharap
kedepannya sekolah ini mampu menjadi Madrasah Aliyah terbaik se-Indonesia dan
mampu mendidik serta menciptakan lulusan-lulusan terbaik yang sesuai dengan
visi dan misi MA Daarul Hikmah yang berguna untuk keluarga, agama, negara dan
bangsa. Amin . . .
Berikut ini adalah foto-foto kenangan saya semasa saya bersekolah di MA Daarul Hikmah Pamulang :
SEKIAN DAN TERIMAKASIH













